WINDY EFFENDY, JATUH CINTA PADA KATA-KATA



Ditulis oleh: Titie Surya


Pencinta kucing ini menikmati hari-harinya dengan menulis—dan membaca. Meski sempat lama berkecimpung di dunia kuliner, kini dia memilih untuk duduk berjam-jam di depan laptop daripada menghabiskan waktu di depan oven. 

Windy Effendy, seorang ibu yang tinggal di Surabaya bersama suami dan dua orang anak gadisnya, ditemani oleh 12 ekor kucing. Sebagai pemuja anabul, Windy memulai harinya dengan mengurus kucing-kucingnya sebelum mulai menulis.


Sempat Bergelut di Dunia Kuliner

Anak sulungnya bekerja secara WFE (Work From Everywhere) sebagai desainer grafis. Saat ini si sulung masih berada di Surabaya. Gadis bungsunya kuliah semester 4 di Universitas Airlangga Fakultas Sains dan Teknologi, Jurusan Statistika. Windy dan keluarga kecilnya sempat tinggal di Sidoarjo dan Semarang, sebelum akhirnya menetap di Surabaya.

Bersama suaminya, Windy menjalankan usaha kuliner saat di Semarang. Saat itu, usaha cakue dan bolang balingmya telah memberi pengalaman jatuh bangun luar biasa di dunia bisnis kuliner. Nyatanya, kegagalan tak membuatnya surut melangkah. Ibu dari dua putri cantik itu memutar haluan dengan membuat kue. Selanjutnya, dia memilih untuk fokus di dunia dekorasi kue selama 12 tahun, termasuk ketika pindah kembali ke Surabaya. 

Dia juga membuat sebuah kursus baking dan dekorasi kue bersama dua orang temannya, yang hingga kini masih berjalan walau hanya berdasarkan permintaan. Berkat pandemi, bisnis kursus kue sempat oleng dan mengalami masa-masa yang berat. Saat ini, sesekali Windy masih suka membuat cake dan mendekorasinya bila sedang ingin atau ada permintaan dari langganan lama. 

Selain itu, Windy sempat menekuni bisnis kedai kopi bersama suaminya. Gara-gara pandemi pula, kedai kopi pun harus ditutup agar tak menggerus dana tabungan. Dua tahun terakhir ini, Windy sibuk membuat sambal rica dan dabu-dabu untuk kedai rahang tuna bakar yang didirikan suaminya. 

Windy dan tim Cake Studio Indonesia dalam Cakpreneur event di Gresik

Buku Pertama yang Menakjubkan

Bagi lulusan Teknik Arsitektur Universitas Kristen Petra ini,  menulis adalah tempat menciptakan dunia baru. Banyak hal yang bisa dituangkannya dalam tulisan. Dia lebih suka menulis fiksi karena bisa mengungkapkan sekaligus menyembunyikan banyak hal. Dunia tulisan memiliki banyak sudut menantang untuk dijelajahi. Perempuan kreatif ini mulai menulis sejak usia sekolah dasar. Banyak tulisan-tulisan Windy kecil yang ditulis tangan yang hingga kini masih tersimpan. Menginjak SMP dan SMA, dia mulai membuat cerpen—yang tak dimuat di mana-mana. Ketika kuliah, hobi ini sempat terhenti. Meski kuliah di Jurusan Arsitektur, sudut favorit di perpustakaan kampusnya adalah lorong buku sastra. Nyaris semua buku di rak-rak itu sudah dilahapnya.

Windy menulis serius pada 2013 ketika rekan-rekan pembuat kue menggagas untuk membuat buku. Dia terlibat sebagai salah satu penulis naskah dan pembuat pola dalam buku. Buku keroyokan pertamanya, Carving Cake, Membentuk Cake dengan Karakter dan Dekorasi Tiga Dimensi, ditulis oleh 14 bakul kue dari berbagai wilayah di Indonesia. Buku itu diterbitkan oleh PT. Dian Rakyat dan sempat terpajang di Gramedia.


Pertemuan yang Mengubah Segalanya

Salah satu titik balik yang mendorongnya untuk menulis lagi adalah ketika bertemu langsung dengan Dewi ‘Dee’ Lestari. Pada 2014, Windy yang didapuk menjadi narasumber kuliner lokal Surabaya di event L’OREAL Women of Worth, tanpa diduga bertemu dengan Dee yang menjadi narasumber utama. Pertemuan itu membuat perempuan enerjik yang murah senyum berteguh bahwa ia pasti bisa jadi penulis. Semesta telah mempertemukannya dengan Dee, adalah pertanda. Walaupun harus berkelok ke sana kemari, ia tetap mengejar satu tujuan: jadi penulis.

Di antara waktu luangnya sebagai ibu dan pengajar serta pembuat kue, Windy masih menulis di sosial media atau websitenya www.windyeffendy.com. Beberapa cerpen lamanya sempat ditulis ulang dan diterbitkan dalam beberapa antologinya. Hingga kini, lebih dari 30 antologi fiksi dan nonfiksinya telah terbit.

Tak berhenti di situ, Windy terus belajar sambil meningkatkan jam terbang. Beberapa tulisannya telah terbit di media daring. Penyuka musik, kopi, dan travelling ini pun berusaha memantaskan diri untuk disebut editor. Lebih dari 100 buku cetak dan digital telah dieditnya. Saat ini, Windy bersenang-senang sebagai editor lepas, sekaligus menjadi Koordinator Divisi Kreatif di Perempuan Penulis Padma. Baginya, menulis dan mengedit adalah satu rasa yang tak terpisahkan. 


Membaca adalah Amunisi

Windy menyukai bacaan seperti Stuart Little, Seri Little House on the Prairie dari Laura Ingalls Wilder, Rectoverso serta Aroma Karsa karya Dee Lestari. Dua yang pertama mengajarkannya berimajinasi, melanglang buana, dan menembus batas mata. Selain itu, buku-buku Enid Blyton menempanya sejak kecil, membuatnya menjadi seorang pemimpi yang tak takut mengejar tujuan.

Jadwal menulisnya di pagi hari, sebelum menyiapkan urusan rumah. Windy juga selalu menyempatkan membaca buku sesibuk apa pun. Minimal membaca satu dua bab sebelum tidur atau di sela-sela waktu bekerja adalah upayanya untuk mengisi amunisi. Setelah membaca buku, Windy berusaha menuliskan ulasan atau resensinya.

Buku terbaru Windy, Tas Melintas Waktu

Bukannya Tidak Bisa

Windy berpesan, jangan pernah berhenti menulis. Menulis dengan rutin akan sangat membantu dalam berlatih menuangkan gagasan. Rajin membaca dan membuat ulasannya, juga penting. Target minimal dua buku sebulan. Biasanya, halangan yang ada untuk mencapai target menulis terkadang soal memulai atau menyelesaikan, bukannya tidak bisa. Jangan pernah bersembunyi di belakang frasa writer’s block.

“Semoga ke depannya, Perlima bisa menjadi wadah karya para penulis perempuan di mana saja,” ujar Windy. Harapannya, Perlima semakin membahana, kuat, teguh pada prinsip, dan membahagiakan serta memberdayakan seluruh anggotanya—dan masyarakat Indonesia. [TS]

1 comment