ENAM BELAS WAJAH KEMATIAN


SELALU ada awal dan akhir dari setiap masa. Selalu ada kematian dari setiap kehidupan—tidak ada yang abadi. Pertanyaannya adalah kapan akhir itu tiba, atau bagaimana cara dia tiba. Tidak ada yang tahu rahasia itu.

Dalam bukunya yang berjudul Biarkan Kematian Merayakan Kehidupan, Awi Chin menyuguhkan enam belas wajah maut yang hadir dengan cara yang berbeda-beda. Sesuai judulnya yang menarik, buku ini bicara soal kematian yang mengelilingi tokoh-tokohnya. Bukan soal kematian sang tokoh, melainkan juga bagaimana sebuah kematian mempengaruhi tokoh-tokohnya.

Enam belas cerpen yang ada dalam buku ini memberikan pengalaman membaca yang tidak biasa. Awi Chin, dengan piawai membuai pembaca untuk menikmati proses ratapan dan kesedihan para tokohnya. Setiap cerpennya dibungkus dengan permainan pikir dan kata-kata yang menawan.

Pemuda berbakat yang juga menjadi Emerging Writer di Ubud Writers and Readers Festival 2022 ini mengajak pembaca masuk ke dalam gelombang pikiran tokoh dalam cerpennya, mempertanyakan berbagai hal dalam kehidupan, dan kemudian berproses mencari jawabannya.

Awi Chin selalu menulis cerpennya dengan latar belakang budaya yang kental ditambah berbagai persoalan sosial yang berkelindan di antaranya. Latar tempat yang dipilihnya pun menarik—lengkap beserta rangkaian budaya lokal yang diusungnya. Pembaca dibawa berkelana mulai dari  menyusuri eksotisnya Sungai Kapuas hingga keindahan Tana Toraja. Banyak dari cerpennya mengambil latar tempat di Pontianak. Budaya Tionghoa dan berbagai istilah pun bertaburan di buku ini. Bahasa-bahasa daerah sesuai latar tempat yang dipilih pun membuat cerita semakin kaya dan tebal. 

Selain menembus UWRF, pemuda berkulit putih yang juga model ini berhasil pula mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu residen penulis di AIR Literratur Västra Götaland—Gothenburg City of Literature, Swedia. Dengan bekal pengalaman dan kemampuan menulis yang mumpuni, cerpen-cerpen Awi terasa mengalir begitu saja dengan setumpuk peristiwa untuk direnungkan dalam.

Awi bermain-main dengan pergantian sudut pandang di beberapa cerpennya, seperti di cerpen "Dilatasi Masa",  "Ngelaban Kenangan", dan "Petilan Nehemia yang Bunuh Diri di Tangga Surga". Perpindahannya terasa sangat tepat walau diterapkan dalam ruang yang terbatas. Setiap informasi yang disampaikan dari sudut pandang tokoh saat itu membuat ceritanya semakin lengkap dan utuh. 

"Petilan Nehemia yang Bunuh Diri di Tangga Surga" dan "Elegi Sekeping Pagi" adalah dua dari cerpen Awi yang kukagumi penulisannya, yang kubaca beberapa waktu sebelum buku ini terbit. Begitu piawainya Awi memindahkan sudut pandang sekaligus menyebarkan informasi yang membuat kisahnya semakin jelas. Bahasa yang digunakan sangat jernih dan efisien. Metafora yang diselipkan di sana sini membuat kisahnya semakin memesona.

Selain itu, Awi berani mengulik beberapa hal yang mungkin masih terasa tabu untuk ditulis seperti kisah romantika dua gender yang sama, persoalan mualaf dan budaya yang bertentangan, penolakan keluarga, kematian yang tidak wajar, dan sebagainya. Membaca "Sabur Limbur" membuatku terperangah, betapa Awi bisa memasukkan dua hal yang intens dalam satu cerita. Secara subtil, sebuah petunjuk yang menarik muncul hanya dari satu kata. Satu kali membaca cerpen ini membuatku merenung berjam-jam. 

Penulisan yang menarik muncul di cerpen yang berjudul "Penjajahan dalam Sembilan Paragraf". Sesuai judulnya, cerpen ini hanya terdiri dari sembilan paragraf. Setiap huruf pertama dari paragraf ditebalkan dan membentuk satu nama kota yang menjadi latar peristiwa: Pontianak. Menariknya lagi, cerpen ini dituliskan dari sudut pandang seekor burung. Sama dengan cerpen "Pohon Gantung Diri" yang mengambil sudut pandang dari seekor anjing. 

Aku sempat menemukan dua nama serupa—Bagas; dalam cerpen "Ngelaban Kenangan" dan "Debu ke Debu". Ternyata, "Ngelaban Kenangan" adalah sebuah fragmen kisah yang berhubungan dengan novel Awi Chin yang terbit di tahun 2020 dengan judul Yang Tak Kunjung Usai. Seperti novelnya, latar di cerpen ini pun sama, budaya Dayak, ditambah dengan persoalan norma dalam romantika yang dianggap tabu.

Beberapa kesalahan penggunaan EYD yang ditemukan dan kurang telitinya sang proofreader dalam menelisik layout di satu dua kata, masih bisa dimaklumi. Membaca dengan hati bila tak mempedulikan hal itu, tak akan nampak. Apalagi bila Anda membaca cepat. Pesan saya, jangan cepat-cepat. Nikmati setiap cerpennya.

Pesan yang diembuskan Awi dalam kumpulan cerpen ini adalah satu—seperti yang dituliskan di blurb-nya: kematian adalah sumber mata air yang mengaliri kehidupan. Tak bisa dipungkiri, setiap kematian akan membawa pada episode kehidupan lainnya. Ketika sebuah akhir menjadi sebuah awal. Kematian menjadi kenyataan yang harus diterima ketika dia tiba, yang kemudian menjadi sebuah titik untuk beranjak melanjutkan kehidupan. Kematian, tetap ada di sana, dulu ataupun nanti.

Untuk para penikmat bacaan yang mengusung tema pertentangan budaya, agama, psikologis atau mental health, serta pecinta kekayaan ragam eksotisme nusantara, buku ini layak untuk dibaca. Sisihkan penilaian sekotak yang tidak perlu, kemudian lepaskan imajinasi dan melayang bersama tulisan-tulisan Awi. Untuk pembaca yang menganggap tulisan sastra itu berat, buku ini mungkin bisa hadir sebagai pembuka. Tanpa meliuk-liuk dan akrobat dengan kata-kata mendayu, tulisan Awi telah jujur mengungkapkan kejadian dan perasaan dengan tepat.

Sekali-sekali, tinggalkan dunia tulisan kosong yang tak punya makna. Selamat datang di dunia penuh imajinasi.


Ditulis oleh Windy Effendy

^telah dimuat di windyeffendy.com, 30 Maret 2024






No comments