BORN TO BE ALIVE

Ode tentang Laki-Laki Berhati Agar-Agar


TAHU jika Tuhan adalah titik terakhir dari semua perjalanan manusia, tapi mengapa pertanyaan tentang tujuan hidup selalu tak pernah tuntas dicari jawabannya. Bahkan pertanyaan besar mengapa manusia lahir, lalu hidup, dan lantas mati, tetap menjadi misteri yang membuat setiap orang selalu ingin mencari-cari apa gerangan jawaban itu.

Tapi, Lo Tiang Kong sedikit orang yang tak waswas dengan semua kebingungan atas pertanyaan-pertanyaan yang kerap meliputi isi kepala manusia. Seolah tak pernah bisa diuraikan dengan pasti lalu memuaskannya. Sebab bagi Lo Tiang Kong, hidup adalah jawaban itu sendiri. Mengapa harus bertanya? Tak perlu harus tahu banyak alasan Tuhan menciptakan alam semesta dan seisinya, tugas manusia hanya menikmati kehidupan itu.


Lebih akrab disapa dengan Mick, laki-laki berdarah Tionghoa itu hampir tak pernah saya temui ia gusar atas apa yang tak diketahuinya tentang apa yang tengah terjadi. Di mata kebanyakan orang yang mengenalnya, sulit sekali mendapati laki-laki bermarga Lo itu galau atas sesuatu yang biasa berkelindan di kepala orang-orang. Sekitarnya seolah sepakat bahwa laki-laki itu selalu “bersuhu sama dengan segala cuaca”.


Bisa dibilang, sosoknya hampir tanpa emosi. Bukan berarti ia tak berperasa. Tapi tak mudah menangkap perubahan sikap atau perilaku pada Mick yang biasanya naik turun wajar sebagai human being. Tak akan ditemui letupan-letupan perasaan yang menunjukkan ada yang salah atas dirinya.


Bagai air di kolam yang tak ditepuk permukaannya, Mick begitu tenang. Demikian setiap hari yang ia tunjukkan. Bagai tak terpengaruh hal apa pun.


Sementara yang lain di sekelilingnya bisa jadi tengah terjebak dalam situasi yang tak tentu. Yang di sini kecewa lalu mengerutkan dahinya tanda lesu. Yang di sana gagal lantas menunjukkan kemarahan tak terkontrol. Yang di seberang sedang kehilangan sampai meneteskan air mata berhari-hari. Yang lain tengah frustrasi berat hingga raut wajahnya dipasang tak ramah pada sesama. 


Tapi Mick? Siapa yang pernah melihat ia gundah gulana. Kalaupun ada yang membuatnya masygul, laki-laki itu pandai sekali membungkus emosinya dengan baik. Diletakkan di tempat yang sangat aman agar tak sedikitpun mempengaruhi apa pun siapa pun di luar dirinya sendiri. Ibaratnya, saat kehujanan, umumnya orang basah kuyup hingga kedinginan. Tapi laki-laki ini bisa bertahan dengan jutaan air hujan yang mengguyurnya.


Secara positif, saya lalu menyebut ia “laki-laki berhati agar-agar”. Tubuh dan jiwa Mick senantiasa lembut, kenyal, dan lentur saat menghadapi begitu banyak hal yang kacau di mana-mana. Sebagaimana agar-agar yang hanya manis dirasa, ia selalu bisa memberi kebaikan-kebaikan yang dibutuhkan tanpa diminta. Mirip agar-agar yang menggelinding sangat mudah melewati mulut dan tenggorokan, keberadaan Mick mudah diterima siapa saja.


Apa resep rahasia atau istimewa yang dipegang Mick hingga bisa sebertahan itu pada segala keluh kesah dalam hidup, jawaban Mick sangat klise. Ia yang selalu merendah itu bilang bukan saking hebatnya ia tapi segala sesuatu terjadi karena ada Pengeran, Sing Nggawe Urip, Sing Kuoso. Andai dimintai nasihat, Mick selalu meyakinkan setiap orang dengan jawaban yang sama: “siang malam selalu ingatlah pada Yang Maha Kuasa”. Ya, jawabannya: Tuhan. Hanya itu.


Tapi, lantas ada pertanyaan berikut; di mana Tuhan itu Pak Mick? Lagi-lagi jawabannya bisa lebih klise lagi. Ia bilang: “Tuhan itu tak perlu dicari, Ia di mana-mana, Ia tak ke mana-mana”. Tapi, yang klise itulah yang membentuk diri Mick selama ini bak “agar-agar”. Mick mau orang lain percaya bahwa Tuhan sejatinya selalu membersamai setiap masing-masing orang. Mungkin yang membedakan hanyalah kepekaan untuk menyadari bahwa Tuhan sudah Bersama kita. 


Dari sisi kepekaan inilah Mick saya nilai punya kelebihan ketimbang yang lainnya. Bahkan kepekaannya sangat tajam. Kemampuan menyadari bagaimana Tuhan selalu terlibat dalam hidup memang tak dipunyai semua orang. Yang ada secara umum adalah sangkaan bahwa Tuhan lebih sering tak hadir. Lebih-lebih ketika datang sesuatu yang buruk. Padahal pada saat yang buruk terjadi itulah -kata Mick- Tuhan justru ingin lebih mendekat kepada orang yang tengah mengalaminya. 


Tentang cara ”mengendus” keberadaan Tuhan itu, laki-laki kelahiran Semarang, pada 15 Januari 1956 itu punya kebiasaan mendekati pusaran-pusaran yang berenergi lebih kuat dibanding yang lain. Selama mengenalnya, saya terbiasa melihat Mick dengan sengaja mengambil waktu yang khusyuk dan khidmat di tempat-tempat yang dianggap suci. 


Sebagai penganut Katolik, rumah ibadah Mick tak hanya gereja. Ia masuk kelenteng, wihara, masjid, pepunden, dan titik-titik yang mengandung keheningan. Hingga sudahlah biasa Mick menempuh perjalanan untuk mendapatkan sesuatu yang tak bisa ditemui tanpa menghampirinya. Tak heran Mick menyukai semua jenis lanskap yang ada di depannya. Entah gunung, sungai, air terjun, laut, pantai, hingga jalan, pasar, atau bangunan lama, dan gedung-gedung kuno.


Menariknya, Mick punya kemampuan melukiskan semua tempat yang ia kunjungi itu dalam sketsa. Sebagai arsitek, teknik Mick sangatlah mumpuni. Tapi berkali-kali Mick membantah kelebihannya yang satu itu. Padahal soal kebiasaannya, banyak seniman mengakuinya. Termasuk salah seorang sahabatnya, Nana Sawitri. Perupa yang juga ketua Semarang Sketchwalk itu akhirnya berhasil mendorong Mick untuk membagikan 22 karyanya ke hadapan publik dalam pameran, Born to Be Alive. 


Bukan untuk pamer yang sangat dihindari Mick yang tak suka menonjolkan diri. Tapi Nana meyakinkan Mick bahwa karya-karya itu biar bisa menjadi pembelajaran buat yang lain. Terkait ketajamannya dalam menangkap sesuatu dengan kepekaannya yang lebih tajam. Juga bukti dari ”pertemuan-pertemuan” pribadi Mick dengan yang ia sebut sebagai Yang Maha Kuasa itu. Di antaranya terwakili dengan sketsa Kelenteng Tay Kak Sie, kelenteng terbesar di Semarang.

Sebagian tentang sekitar Mick tumbuh dan berkembang. Seperti Kelenteng Siu Hok Bio di Jalan Wotgandul Timur yang merupakan kelenteng tertua di Semarang sejak 1743 bahkan konon sejak 1416, tak jauh dari tempat tinggal Mick. Kelenteng Tek Hay Bio, Kelenteng Ling Hok Bio, Kelenteng Kong Tik Soe, dan Kelenteng Hoo Hok Bio. Keempatnya termasuk 9 kelenteng yang berada di wilayah Kampung Pecinan yang masih dijadikan tempat ibadah.


Sebagian lagi tentang perjalanan Mick memaknai hal-hal yang ditemuinya. Di antaranya di Pasar Gang Baru, sudut kota lama Semarang di Jalan Suari, suasana gang-gang ikonik yang menunjukkan kekhasan kampung Semarang seperti di Gang Warung atau Gang Cilik. Rumah Peranakan di Gang Besen atau di Kampung Sumeneban yang padat. Termasuk tangkapannya tentang pusat perdangan paling sibuk di Surabaya seperti di Jalan Songoyudan atau keriuhan Pasar Pabean.


Tentang kepekaan membaca sesuatu yang dimiliki Mick itu, tak salah jika kerap sekali Mick menjadi tumpuan orang-orang di dekatnya untuk sekadar membantu memastikan langkah. Soal ini, Mick adalah orang yang rela membuka diri seluas-luasnya guna menampung keluh kesah yang ogah disangga yang lain. Sisi hatinya yang bagai agar-agar ini sangat mudah terbaca oleh orang-orang di dekatnya. Saya yakin masing-masing pernah ”disentuh” Mick dengan caranya.


Sebagaimana agar-agar, kelembutan hati Mick sangat bisa dirasakan. Itulah yang mampu mengontrol diri Mick untuk tetap tak menjauh di tengah eforia sekitar yang sangat berisik. Hebatnya, Mick tak menjauhi kegaduhan-kegaduhan itu. Justru ia berusaha tetap hadir seperti agar-agar yang menetralisir carut marutnya situasi sekitar yang tak menentu. Tentang kerelaan menjadi seseorang yang demikian, tak ada yang meragukannya.


Jelas, Mick tak akan mengakui kelebihan-kelebihan dirinya itu. Tapi orang lain yang pernah berinteraksi dengannya, sepakat untuk meneguhkan kekenyalan hatinya yang bagai “agar-agar”. Dalam usia 68 pada tahun ini, ia bukan lagi menua secara fisik. Jiwanya justru lebih tua daripada itu. Sejak ia muda barangkali. Sebagai orang yang sering dituakan, Mick serupa figur ayahnya yang menjadi tempat orang lain meminta tolong pada zamannya. 


Dari ayahnya itu, bisa ditelusuri bagaimana Mick belajar mengasah kepekaan. Sebagai Tionghoa, iamelihat ayahnya tak alergi belajar Al-Qur’an sekalipun. Dari seseorang yang bernama Suhud yang kerap memberinya tahu tentang ayat-ayat dan artinya. Ayahnya yang menjalankan lelaku Taoisme dan Kejawen sangat intens mempengaruhi sikap dan pandangan hidupnya yang senantiasa hanya ditujukan untuk lebih memperhatikan orang lain.


Sejak kecil, sudahlah biasa Mick melihat ayahnya yang mantan guru itu sering membantu orang. Ada yang mencari kesembuhan dari sakit, minta tolong menunjukkan titik sumber air, menentukan syarat yang tepat untuk membangun rumah, sampai mencarikan tolak bala atas kesusahan yang dialami seseorang. Hingga segala hal yang hendak disingkarkan sengkalanya atau disebut ci suak dalam tradisi Tionghoa. 


Satu hal yang dikagumi Mick dari ayahnya adalah kemampuannya menulis bacaan doa-doa dalam bahasa Arab gundul yang ditulis terbalik dari kiri ke kanan. Dari orang yang pernah membacanya, tulisan yang bisa disebut karya seni itu sangat mencengangkan Mick. Isinya adalah asma-asma Allah dan berbagai pujian atas kebesaran-Nya. Ada yang menunjukkan 12 petak lambang waktu atau bisa berarti lambang 12 shio. 


Di dalamnya terdapat empat penjuru lambang arah yakni lor, wetan, kidul, kulon. Ada bagian segitiga yang diperkirakan Mick sebagai posisi kedudukan roh, roh hewani, roh nabati dan roh Illahi. Semua itu ada dalam tubuh dan jiwa setiap manusia. Pelajaran dari ayahnya inilah yang kemudian menuntun Mick menjalankan lelaku yang serupa. Termasuk caranya melihat adanya agama yang berbeda bukanlah untuk berseteru tentang Tuhan siapakah yang paling benar. 


Tradisi spiritual itu tak mengherankan jika melihat kedua kakek buyutnya yang keturunan Payakumbuh dan Padang itu adalah sama-sama pesilat yang tangguh. Tak banyak yang tahu pula bahwa kakek buyutnya adalah wartawan yang pernah memotret Pahlawan Kemerdekaan Nasional Gatot Soebroto yang dimakamkan di Ungaran, Semarang itu. Juga memotret Sukarno dalam perhelatan Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955. 


Salah satu kakek buyutnya itu adalah pengacara di zaman Belanda. Sebagai orang yang kenal baik dengan Residen Semarang pada zaman itu, kakek buyutnya pernah menjadi opsir penjara yang suka membebaskan orang dan mengungsikannya ke rumah. Aktif bersama palang merah, kakek buyutnya terbiasa mengurusi para pengungsi. Celengan pribadi pun rela diberikan untuk meringankan kesulitan orang lain. 


Dari sekilas memahami riwayat generasi Mick sebelumnya, tak heran jika membantu orang lain adalah jiwa leluhur turun temurun yang telah membentuk pribadi dan karakter seorang Mick yang sekarang. Dari sekian pelajaran tentangnya, Mick memberi tahu saya -mungkin juga orang lain- bahwa Tuhan memberi tugas yang sama pada manusia sejak mereka dilahirkan: menjalani hidup sebaik-baiknya. Born to be alive. 


Selama menjalankan tugasnya itu, Mick bisa menjelma sebagai sosok yang lembut, kenyal, dan lentur di antara sesuatu yang keras, alot, dan kaku itu. Tak salah jika saya menjulukinya: “laki-laki berhati agar-agar”.


Selamat berpameran, Pak Mick…

No comments